BANDUNG: KUTITIP RINDU PADA BRAGA DAN ORANG-ORANG DI SEKITARNYA

 

Di tanah asing ini. Bandung.

Rindu. Pilu. Berjarak padamu bukan suatu ketenangan. Perpisahan darimu dimulai dari hal-hal yang tak kuinginkan, kemudian kita pergi sendiri-sendiri. Meraih mimpi sendiri-sendiri. Padahal kita pernah berjanji akan ada satu bintang yang akan kita tuju. Berjanji? Atau jangan-jangan hanya aku yang berucap, kamu tak mengamini.


Baiklah-baiklah. Mari kita lupakan saja. Tapi apa bisa melupakan kenangan-kenangan yang sudah lama mengendap dalam ingatan. Lalu, kamu? Apakah melakukan hal yang sama?



Dan Braga pagi ini membawa rinduku padamu kembali. Pada mereka yang mulai bergerak, kutitipkan satu rindu padamu. Sebentar, sebentar. Biarkan angin saja yang membawanya, membawa rinduku padamu.


Apakah kamu melakukan hal yang sama, berdiri, menunggu, tak tentu? Menitipkan salam rindu pada angin-angin lalu. Atau justru sekarang kamu sedang duduk berdua, berhadapan di meja restoran, menikmati segelas kopi, atau makan malam? Di kota apa kamu berada? Apakah di kota yang sama, atau justru Jogja, atau kota-kota di Kalimantan atau Sumatera atau justru Belanda? Mengapa tak sedikitpun petunjuk yang mengabarkan apa-apa, bahwa kehadiranmu untukku adalah penting. Aku tahu itu tak penting. Buatmu, tentu saja. Namun, hari-hari memandang kejauhan dari atas gedung ini menjadi dingin, mengenang perasaan.

Di penghujung dunia, engkau tentu saja sudah bersama dengan yang lain. 

Apakah rindu semakin jadi karena jauh dari bumi?



Apakah langit akan mendengar, kemudian menyampaikan? Ada semacam perasaan diam-diam yang kurasakan, memandang jauh ke depan, penuh kerinduan, mungkin tidak bagimu, iya bagiku. Wajahmu hinggap di kenangmu. Tak peduli, malam mulai menelan keriuhan kemacetan, dering telepon di kejauhan, mungkin dari driver taksi online yang sudahh menuggu di lobi depan, tapi aku masih termenung. Menunggu kabar. Sekian lama. Tak kunjung datang.



 

Tapi, semangat mereka di pagi ini, di kota ini, di tempat ini. Braga. Yang awalnya kubenci karena aku seperti lari dari kenyataan, justru kini menjadi temanku dalam perjalanan. Semangat selalu pagi.






2 comments